Gema Difabel Sulbar Canangkan Program Dignity Inklusi

Pencanangan program Dignity Inklusi (Foto: Istimewa)
Pencanangan program Dignity Inklusi (Foto: Istimewa)

Kelompok disabilitas rentan sekali mendapat perlakuan diskriminatif. Kelompok yang dimaksud, yakni Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ).


Hal itu yang mendorong Yayasan Gerakan Mandiri (Gema) Difabel Sulbar sebagai sub mitra dari Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRY) mencanangkan program Disability Inclusion Throught Strenghtening Local to National Policy and Capacity (Dignity) Inklusi.

Pencanangan program Dignity Inklusi yang dihadiri Kepala Bagian Program Rehabilitasi Holistik PRY, Muhammad Aditya Setiawan, berlangsung di Kantor Bupati Mamuju, Sulbar, Jumat (13/10/23).

Aditya mengungkapkan, kelompok disabilitas paling sering menjadi korban kekerasan fisik, non fisik dan seksual. Sehingga, hak-hak mereka sebagai warga negara belum terpenuhi dan berdampak pada kualitas hidupnya.

"PRY sebagai mitra utama Inklusi berkolaborasi dengan dengan delapan mitra lokal di tujuh provinsi di Indonesia, termasuk di Provinsi Sulawesi Barat. Tujuannya agar tidak ada seorang pun yang ditinggalkan dalam pembangunan, sekaligus untuk menjawab persoalan pemenuhan hak disabilitas di Indonesia," kata Aditya.

Di Sulbar sendiri, kata Dia, pihaknya menjalin kerjasama dengan Gema Difabel untuk pendampingan terhadap ODDP atau ODGJ. Menurutnya, ada stigma, diskriminasi, pengabaian, penolakan sosial dan eksklusi lainnya terhadap kelompok itu.

"Perlu dibenahi karena stigma teman disabilitas ODGJ cukup tinggi. Bahwa mungkin orang berpikir orang itu merupakan orang gila lalu tidak bisa diapa-apakan. Sebenarnya ketika kita membangun ekosistem yang baik, tentu mereka dapat diterima masyarakat," ujarnya. 

Ketua Yayasan Geme Difabel Sulbar, Syafaruddin Syam menjelaskan, program Dignity Inklusi bukanlah program yang baru diinisiasi PRY di Indonesia. Hanya saja, khusus di Mamuju, Sulbar, program ini baru pertama kali dilakukan. 

"Saya sudah melihat langsung bagaimana ODDP di Yogjakarta, bisa bekerja dan bersosialisasi dengan masyarakat lain. Itu semua adalah hasil kolaborasi yang baik semua pihak," ungkap Syafaruddin Syam. 

Sehingga menurutnya, program Dignity Inklusi tidak bakal terlaksana dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan, jika tidak ada keterlibatan semua pihak.

"Kolaborasi dan sinergitas dari semua kalangan akan sangat membantu menyukseskan program ini. Itu harapan kami," tuturnya.