Masjid Agung Syuhada Mamuju Kembali Dibangun, Telan Anggaran Rp82 Miliar

Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi melakukan peletakan batu pertama Mesjid Agung Syuhada (Foto: Eka Musriang)
Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi melakukan peletakan batu pertama Mesjid Agung Syuhada (Foto: Eka Musriang)

Masjid Agung Syuhada Mamuju kembali dibangun setelah roboh akibat gempa bumi yang mengguncang Mamuju, Sulbar, 15 Januari 2021 lalu. Pembangunan salah satu ikon Kabupaten Mamuju itu direncanakan selama 360 hari.


Terhitung sejak pembongkaran puing-puing bangunan Masjid Agung Syuhada Mamuju sejak 5 Oktober 2023 lalu, dan rencananya akan selesai pada 4 Oktober 2024 mendatang dengan desain baru, namun tetap mengadopsi model bangunan sebelumnya.

Pembangunan yang menelan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) sebesar Rp82.178.966.000 itu diklaim tahan gempa bumi. Tiang pancang ditancapkan di sebanyak 124 titik dengan kedalaman yang bervariasi, mulai dari kedalaman 27 hingga 32 meter.

Hal itu disampaikan Kasatker Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (PPW) Sulbar, M Arief, saat diwawancarai rmolsulbar.id, usai ground breaking rekonstruksi Masjid Agung Syuhada Mamuju, Kamis (30/11/2023).

Arief mengungkapkan, pembangunan kembali masjid termegah di Sulbar itu dilakukan dengan menyesuaikan wilayah Mamuju yang rawan mengalami gempa bumi. Dibuktikan dengan rencana penancapan tiang pancang beton di 124 titik.

"Desainnya desain baru, tapi modelnya sama dengan bangunan sebelumnya. Pembangunannya kami menyesuaikan dengan wilayah Mamuju yang rawan gempa. Kalau tiang pancang sesuai rencana 124 titik kedalaman dari 27 sampai 32 meter," kata Arief.

Bupati Mamuju, Siti Sutinah Suhardi menjelaskan, Masjid Agung Syuhada Mamuju merupakan salah satu bangunan yang sangat terdampak saat terjadi gempa bumi 6,2 magnitudo lalu.

"Ground breaking yang kita lakukan hari ini menjadi penanda akan dimulainya pengerjaan masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Mamuju dan Sulbar. Semoga, pembangunannya berjalan dengan lancar, sehingga dapat segera digunakan kembali untuk menunjang aktivitas peribadatan masyarakat di Bumi Manakarra dan sekitarnya," ujar Siti Sutinah.

Robohnya masjid dengan konsep Turki Usmani dan dilengkapi desain empat pilar yang berdiri kokoh di setiap sudutnya, kata Dia, menjadi kesedihan bagi seluruh warga Mamuju, khususnya yang tinggal di sekitar kota.

"Saya berharap pembangunan masjid kita ini bisa berjalan dengan lancar. Ini adalah bentuk komitmen dari pemerintah untuk bagaimana membangun kembali bangunan-bangunan yang terdampak gempa bumi," tuturnya.