Memandang Indahnya Kota Mamuju dari Puncak Anjoro Pitu

Pemandangan Kota Mamuju dari Anjoro Pitu (Foto: Istimewa)
Pemandangan Kota Mamuju dari Anjoro Pitu (Foto: Istimewa)

Gumpalan awan putih terbang berarak di atas lautan, melewati beberapa pulau kecil di bawahnya. Tak jarang gumpalan yang lebih besar menyenggol lembut yang lebih kecil. Lalu dengan mesra mereka menyatu.


Embusan angin siang itu cukup kencang, menggoyangkan dahan dan dedaunan di Bukit Anjoro Pitu, salah satu destinasi wisata di Kabupaten Mamuju, Sulbar. Sesekali bayu yang bertiup melenakan mata, mengundang kantuk untuk datang.

Jauh di bawah gumpalan kapas yang meraksasa di langit, beberapa perahu nelayan melaju, memecah birunya air laut yang tenang. Perahu-perahu itu tampak begitu kecil.

Bukan hanya lautan luas yang dipayungi gumpalan awan. Dari tempat itu juga terlihat atap-atap rumah warga Kota Mamuju dan menara-menara masjid, gereja, pura dan vihara yang berdiri kokoh.

Sebagai destinasi wisata di Mamuju, Anjoro Pitu memang belum seterkenal Pulau Karampuang. Tapi, pemandangan alam dari bukit itu terlalu indah untuk dilewatkan. Terlebih lokasinya yang berjarak tak jauh dari ibu kota Sulbar ini.

Meski jarak dari pusat kota ke Anjoro Pitu tak begitu jauh, untuk mencapai puncak bukit tersebut dibutuhkan waktu sekitar 10 menit. Sebab jalan menuju bukit itu cukup menanjak.

Hari ini, Minggu, 15 Oktober 2023, sepeda motor yang dikendarai Rmolsulbar menuju puncak Anjoro Pitu, sempat kesulitan saat menanjak. Namun, perlahan tapi pasti, kuda besi itu semakin dekat ke puncak.

Pemandangan Pulau Karampuang dari Anjoro Pitu (Foto: Istimewa)

Di puncak Bukit Anjoro Pitu terdapat tulisan 'Mamuju City'. Tulisan besar berwarna merah itu dapat dilihat dari Kota Mamuju. Warga setempat menyediakan menu kuliner untuk menemani pengunjung menikmati pemandangan.

Untuk kenyamanan pengunjung, pemerintah daerah setempat juga membangun beberapa gazebo di lokasi itu, bisa digunakan pengunjung untuk melepaskan pandangan hingga ujung cakrawala.

Jajanan yang disediakan warga, mulai dari kopi, es krim, gorengan dan beberapa jenis makanan ringan. Harganya pun sangat terjangkau. Secangkir kopi hitam dan seporsi pisang goreng cukup sebagai teman menghabiskan waktu, atau sambil menikmati semilir angin bersama kekasih hati.

Wisatawan tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam untuk berwisata di Anjoro Pitu. Karena pengelola destinasi wisata itu, Pemerintah Kabupaten Mamuju, masih menggratiskan biaya masuk.

Semua fasilitas berupa sarana dan prasarana di Anjoro Pitu dapat diakses gratis, tentu saja tidak termasuk kuliner yang dijajakan warga setempat. Pengunjung hanya membayar biaya parkir sebesar Rp 2 ribu.

Dalam Bahasa Indonesia, Anjoro Pitu berarti tujuh kelapa. Konon dulunya di puncak bukit itu terdapat tujuh pohon kelapa yang tumbuh berdempetan. Sehingga warga menamai tempat itu 'Anjoro Pitu'.

Karena lokasinya yang tinggi dan tampak jelas dari Kota Mamuju, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mamuju kemudian memasang tulisan 'Mamuju City' di bukit tersebut, seperti yang ada di Hollywood. Anjoro Pitu kemudian menjadi landmark Kota Mamuju.

Rujab Bupati Mamuju yang disebut Sapota di Anjoro Pitu (Foto: Istimewa)

Untuk warga sekitar Kota Mamuju, Anjoro Pitu bukan destinasi wisata baru. Sejak lama warga setempat sering berkunjung untuk menghabiskan waktu libur. Selain latar belakang Pulau Karampuang dan Kota Mamuju, spot swafoto favorit lain adalah saat matahari terbenam di ujung barat bumi.

Sebagian warga sengaja berkunjung ke Anjoro Pitu menjelang senja. Mereka sengaja menunggu matahari terbenam atau sunset dari puncak bukit. Setelah matahari yang diselimuti pendar oranye dan jingga terbenam di batas garis horizontal, mereka menunggu malam tiba.

Saat gelap menyelimuti, pemandangan lain yang tak kalah indah adalah kerlip lampu di pusat Kota Mamuju. Seperti ribuan kunang-kunang yang bersinar.

Pada tahun 2014, Anjoro Pitu mendapat penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai landmark dengan tulisan terpanjang di Indonesia. Panjangnya mencapai 160 meter dengan tinggi huruf 16 meter.

Eksotisme Anjoro Pitu bukan hanya diakui dan dinikmati warga masyarakat. Bupati Mamuju yang kesepuluh, Suhardi Duka, pun kepincut dengan panorama di tempat itu.

Pada tahun 2005, Pemerintah Kabupaten Mamuju membangun rumah dinas atau rumah jabatan Bupati Mamuju di Anjoro Pitu yang dalam bahasa Mamuju disebut 'sapota'. Padahal, konon kabarnya, dulunya di puncak bukit itu hanya ada satu villa.

Suhardi Duka menempati rumah jabatan tersebut selama kurang lebih 10 tahun atau selama dua masa jabatan bupati, yakni hingga 2015.

Hingga saat ini, rumah jabatan Bupati Mamuju yang dibangun pada era Suhardi itu masih digunakan Bupati Mamuju, Siti Sutinah Suhardi yang merupakan putri sulung Suhardi sendiri, yang terpilih pada Pilkada tahun 2020 lalu.